Bawah sadar, Inspirasi

Memperingati Hari Pendidikan Nasional : Sudahkah Masing-Masing kita “Mendidik diri” untuk Menjadi Manusia Cerdas?

Hari ini tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia mengenal tanggal ini sebaga Hari Pendidikan Nasional, di berbagai instansi pemerintah diperingati dengan Upacara bendera, disekolah-sekolah juga melakukan peringatan dengan upacara bendera. Memperingati dengan melakukan Upacara bendera merupakan hal yang baik, tapi sepertinya tidak cukup jika hanya dengan “ritual” upacara saja.

Memperingati hari pendidikan nasional harusnya dibarengi dengan perenungan mendalam bangsa ini, perenungan mendalam masing-masing kita. Merenung makna dari Pendidikan itu, sudahkah kita mendidik diri kita sendiri. Jangan hanya sibuk mendidik orang lain, sibuk mendidik anak, sibuk mendidik keluarga, jangan hanya sibuk mengajari orang lain, jangan hanya sibuk berkomentar terhadap hidup orang lain. Mulailah untuk bertanya, “sudahkah saya mendidik diri saya sendiri supaya menjadi pribadi yang cerdas?”

Saya menuliskan kalimat “menjadi pribadi yang cerdas”, karena memang tujuan pendidikan nasional itu adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Coba deh baca di Pembukaan UUD 45 di alinea ke-4, tertera disitu tertulis :

“Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia….”

Pendidikan harus dimulai dari dalam diri kita sendiri, jika diri kita belum bisa mendidik diri dengan benar maka yang ada pasti sekitar kita dan lingkungan kita juga tidak benar. Jika diri kita tidak cerdas dalam menghadapi sesuatu maka pasti sekitar kita juga mengalami kondisi yang sama. Banyak orang saat ini sibuk menceramahi orang lain, sibuk mengajari orang lain, tapi dirinya sendiri lupa untuk diceramahi, dirinya sendiri lupa untuk diajari. Bahkan yang parahnya apa yang disampaikan kepada orang lain itu sesuatu yang juga salah, karena efek dari diri yang belum cerdas itu maka ketika menyebarkan sesuatu kepada orang lain juga sesuatu yang salah. Terjadilah penyebaran HOAX dimana-mana dengan mudah dan cepatnya, rantai ketidakcerdasan semakin panjang. Seringkali banyak dari kita dengan mudahnya berbagi informasi digital melalui facebook, melalui pesan whatsapp dan sebagainya, langsung membaginya tanpa memahami dulu apa efek dari infromasi yang kita bagikan itu. 

Kenapa hal ini terjadi? karena masing-masing kita lupa mendidik diri untuk menjadi pribadi yang cerdas. Pribadi yang cerdas artinya paham benar bagaimana memilih informasi yang mau dimasukkan ke dalam pikirannya, pribadi yang cerdas artinya mampu dengan benar mengendalikan dirinya dengan benar, tidak mudah hanyut oleh informasi-informasi yang hanya terlihat benar tapi sesungguhnya melemahkan. Banyak masyarakat kita yang sibuk memanfaatkan media sosial untuk membuat video dan bicara yang sesungguhnya menujukkan ketidakcerdasannya. Bahkan ketidakcerdasan itu dibalut dalam busana yang indah, dalam busana yang religius, dalam busana intelektual. Pribadi yang cerdas seharusnya tidak terpesona dengan berbagai busana itu, tapi melihat apa “konten informasi” yang disampaikan, jangan hanya karena busananya “menggambarkan” sosok yang baik lantas semua “konten informasi” yang disampaikan diterima begitu saja.

Kecerdasan dalam membaca, kecerdasan dalam melihat, kecerdasan dalam mendengar adalah ciri dari pribadi yang cerdas. Dan itulah tujuan dari pendidikan nasional. Sudahkah diri kita mendidik diri ini menjadi pribadi yang cerdas?  mengubah sebuah masyarakat luas harus dimulai dengan mengubah masing-masing pribadi yang ada didalamnya. Jika masing-masing kita belum menjadi pribadi yang cerdas maka bangsa kita juga lambat bergerak ke arah bangsa yang cerdas. Saatnya kita semua merenung dan melakukan perubahan besar di dalam diri kita masing-masing, dari diri pribadi lalu berlanjut ke keluarga dan masyarakat. Dan perubahan itu harus dimulai saat ini juga, dimulai dari perubahan dalam PIKIRAN kita.

SHARE ya TULISAN ini sebanyak-banyaknya supaya semakin banyak Manusia Indonesia yang tersadarkan Tentang makna Pendidikan yang Sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.