Masih Pantaskah Mengeluh Kepada Tuhan ? Renungkan Artikel ini

Banyak orang mengeluh, mungkin juga termasuk anda. Mengeluh tentang pasangan, mengeluh tentang anak-anaknya, mengeluh tentang pekerjaannya, mengeluh tentang kondisi keungannya, apalagi biasana yang dikeluhkan? Anda kalau suka menggunakan media sosial pasti banyak status yang isinya adalah mengeluh dan mengeluh, owh ada satu lagi mengeluh yang lagi marak yaitu mengeluh tentang pemerintahan. Mengeluh itu mungkin sudah menjadi tradisi di negara kita ya, atau karena tidak tahu kenapa harus mengeluh?Apakah mengeluh itu tidak boleh? Saya tidak mengatakan mengeluh itu tidak boleh, mengeluh saja, mau mengeluh ke teman, mau mengeluh ke orang tua atau bahkan mengeluh ke Tuhan. Tetapi, coba anda baca dan renungkan dulu sejenak artikel saya ini.

Ada peristiwa menarik hari ini, tadi sehabis shalat jumat saya berjalan kaki untuk kembali ke kantor wahana sejati karena memang dekat. Lalu tiba-tiba ada sepeda motor yang “menyenggol saya dan membuat saya jadi terjatuh”, agak kaget sih, lalu si penumpang tadi turun ternyata seorang bapak tua, “mas gak apa2? maaf ya saya tadi keburu, ini mas ada sedikit uang untuk mengganti sakitnya mas” sambil menyerahkan dua lembar lima puluh ribu alias seratus ribu. Padahal saya jatuh tapi ngga sakit, saya jawab ” ngga usah pak, saya ngga apa2, bapak hati2saja”, bapaknya memaksa “udah mas, ini menebus salah saya”. Saya ngelirik ke “syahrini” sambil bertanya “gimana nih?”, Sambil senyum manis, syahrini menjawab “ambil aja, kan kamu tadi minta”

Saya jadi ingat, kalau tadi sebelum shalat jumat saya memang niat mengajak staf saya di wahana sejati makan siang, eh ternyata dapat uangnya ya. Mari kita lihat, peristiwa tadi ya. Sebuah kecelakaan, tersenggol motor, maka pasti persepsi semua orang adalah sebuah peristiwa yang jelek, sebuah peristiwa yang negatif dan pasti banyak orang langsung mengeluh, kalau istilah surabayanya “misuh” hehe. Anda mungkin juga seperti itu juga kan, ayo ngaku. Perbedaan pada sikap saya tadi dalam merespon kejadian itu adalah bukan dengan misuh, bukan dengan mengeluh, tapi langsung merespon bahwa pasti ini sudah sesuai dengan requestku. Dan dengan respon seperti itu maka kejadian berikutnya adalah saya mendapat uang untuk mentraktir makan staf, Ajaib. Yang ternyata sudah sesuai dengan request saya sebelum shalat jumat tadi.

Sesungguhnya, dalam hukum yang sudah Tuhan ciptakan ini (baca:sunnatullah), semua kejadian yang dialami oleh seseorang itu adalah hasil dari requestnya sendiri, request yang ada dalam pikirannya. Memang bagi anda yang belum memahami AMC dengan benar dan utuh pasti “komplain” dengan pernyataan saya ini. Sama seperti ketika hari rabu kemarin saya bertemu dengan 3 orang perempuan, saya sebutnya 3 serangkai. Mereka akhirnya menyadari bahwa “ternyata suami saya ini dan seperti ini memang sebenarnya karena keinginan saya ya mas”, bahkan ada yang sudah berpisah dengan suaminya, saya pun mengatakan bahwa kondisi itu bukan kehendak Allah tetapi memang keinginan ibu itu sendiri.

Dibutuhkan sebuah kesadaran yang utuh tentang hal ini, karena banyak pemahaman yang beredar dimasyarakat, banyak ilmu yang justru mengarah ke sebaliknya, menganggap bahwa kejadian itu bukan request kita. Akhirnya malah mengeluh, kalau kamu mau menyadari bahwa apa yang terjadi itu adalah keinginanmu sendiri maka seharusnya malu untuk mengeluh, apalagi mengeluh ke Tuhan. Karena sesungguhnya Tuhan selalu menjadikan semau keinginan-keinginan mu. Bahkan saya pernah ada peserta kelas platinum AMC yang menangis, lalu mengatakan “saya sudah salah prasangka ke ALLAH, saya sudah salah mengeluh ke ALLAH mas, seharusnya saya sibuk memperbaiki diri, sekarang saya paham posisi saya dan ALLAH”. 

Dan banyak dari kita juga memiliki pemahaman yang salah tentang sebuah kejadian, maka masih pantaskah mengeluh ke Tuhan ? Masih pantaskan menyalahkan Tuhan ? Jika sesungguhnya semua kejadian adalah nikmat Tuhan, “maka Nikmat Tuhan mana lagi yang mau engkau dustakan”

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Mohon izin utk menambahi, Mas Firman. Anda memang benar, kebanyakan manusia berprasangka buruk kpd Allah jika diuji dengan kesempitan rizqi. padahal dia sendiri yang mempersempit rizqi tersebut, mungkin kita mengabaikan anak yatim, orang2 miskin bahkan memakan harta warisan dengan mencapuradukkan antara yang halal dan yang haram semua itu sudah tersurat dalam Al quran Surat Al Fajr ayat 16-19.Trim’s.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: