Hukum Menerima dan Memberi

berbagi-kepada-orang-lainDua kata yang menjadi judul artikel ini, sering anda baca, sering anda dengar, mungkin anda pernah membaca di banyak artikel di internet, atau dibuku ya. Banyak juga acara motivasi, ceramah agama yang mengajarkan dua kata ini, tapi…coba perhatikan lagi judul diatas. Menerima dan Memberi, bukan Memberi dan Menerima lho hehe. “ah, sama saja mas firman” mungkin anda berpikiran seperti itu, memang kata-katanya sama tetapi urutannya berbeda. Biasanya yang dipahami selama ini adalah memberi dan menerima. Yang harus didahulukan adalah memberi, baru nanti pasti menerima. Sehingga terkadang banyak orang yang lebih memilih untuk berpikir “gak apa-apalah aku sakit yang penting dia bahagia”. Haruskah seperti itu?

Saya gemes ketika mendengar pernyataan yang seperti diatas itu, “tidak apa-apa aku yang susah, asal anak dan istriku bahagia”, “biarlah aku yang merasakan susahnya, yang penting anak-istriku enak”. Hmm, kalau diri anda susah, diri anda sakit apakah sekitar anda bahagia? tentu jadi sakit juga kan, coba deh dipikir lagi dengan benar ya. Ketika diri anda susah, diri anda sakit, apakah hidup orang sekitar anda bahagia? apakah anak, istri dan keluarga anda senang? jawabannya, tidak. Sekitar anda juga pasti susah, orang-orang terdekat anda juga sakit, lantas apa yang mau anda berikan kepada sekitar anda?

Semua agama, pasti menyuruh umatnya untuk rajin memberi, kalau di Islam harus rajin sedekah. Ada ayat dalam Alquran yang barusan saya baca sehabis shalat tadi, dari ayat itulah saya membuat tulisan ini.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sebarkanlah sebahagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kamu, sebelum tibanya hari (kiamat) yang tidak ada jual beli padanya dan tidak ada kawan teman (yang memberi manfaat), serta tidak ada pula pertolongan syafaat dan orang-orang kafir, mereka itulah orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah:254)”

rahasia-berbagi

Perhatikan ayat itu, “sebarkan sebagian dari apa yang telah kami berikan kepada kamu”, ada kata-kata yang telah kami berikan. Maksudnya, adalah apa yang kita terima, berarti dalam ayat itu terbersit bahwa kita disuruh menerima dulu baru bisa memberi. Berarti benar dong judul artikel saya, “menerima dan memberi”. Sebelum kita sibuk untuk berpikir bagaimana memberi orang maka seharusnya kita lebih dulu berpikir bagaimana menerima, bagaimana mendapatkan banyak harta, bagaimana menerima rejeki supaya bisa kita bagi, supaya bisa kita berikan. Bagaimana menerima banyak ilmu supaya bisa kita bagi kepada orang lain. Maka yang utama harus dipikirkan ternyata bukan orang lain, tetapi diri sendiri. Seperti hari ini, di akhir bulan itu adalah waktunya memberi gaji kepada staf-staf saya, dan waktunya saya juga menerima gaji dari dua tempat dimana sebagian diri saya bisa bermanfaat. Saya bisa memberi gaji kepada staf-staf saya karena saya sebelumnya sudah lebih dulu menerima banyak rejeki dari banyak jalan, kalau anda memahami AMC maka nanti pasti paham bahwa rejeki itu bisa diatur dan bisa disetting.

Yang harus dibuat bahagia dulu ternyata bukan orang lain, melainkan diri kita dulu. Kalau kita bahagia maka kita pasti bisa membagi kebahagiaan kita kepada orang lain. Yang dibuat pintar adalah diri kita dulu, kalau kita sudah pintar maka kita pasti bisa membagi kepintaran kita kepada orang lain. Yang dibuat kaya adalah diri kita dulu, kalau kita sudah kaya, maka kita pasti bisa berbagi kekayaan kepada orang lain. Seringkali banyak orang justru tidak memperhatikan dirinya, seringkali banyak orang lupa kepada dirinya.  Disebutnya “lupa diri”.

alpha-mind-control-surabaya

Lupa kepada dirinya, lupa terhadap siapa dirinya. Wajar saja hal ini terjadi di banyak orang, karena memang pemahaman yang selama ini masuk ke pikiran banyak orang mungkin termasuk anda juga adalag “memberi dulu baru menerima”. Akhirnya sibuk memberi, sampai lupa pada dirinya. Jadi ingat, seorang bapak peserta kelas reguler AMC surabaya, sabtu kemarin, dia berkata “Saya sudah rajin berbagi ke orang, tapi omzet saya tetap saja mas”. Maka kesalahannya bukan dari berbaginya, tapi karena bapak ini memang belum mau menerima dulu, setelah semakin memahami PIKIRAN, siangnya bapak ini bicara lagi “oh iya, memang saya salah program mas, saya sadar sekarang”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: