Rahasia Untuk Memberikan Kebaikan Kepada Orang Lain

rahasia-memberiMemberi dan memberi, adalah ajaran yang dari dulu diajarkan kepada saya, kepada anda dan kepada kita semua. Benar kan?Orang tua kita selalu mengajarkan untuk memberi kepada orang lain, membantu kepada orang lain. Saya tidak menyalahkan ajaran itu, justru sangat mendukung karena kita memang harus saling memberi sesama manusia. Semua agama pun selalu mengajarkan untuk memberi dan memberi, tapi pernahkah anda sedikit berpikir?Ada apa dengan memberi?Kenapa harus memberi? Saya memiliki seorang saudara sepupu dari ibu, dia mengeluh sedang ada masalah dengan pekerjaan dan anak-anaknya, lalu saya coba menyuruh saudara saya ini untuk memberi, kalau di agama Islam dengan istilah sedekah, saya bilang ke saudara ini, “coba deh kamu bersedekah, bagi 2,5% dari penghasilanmu untuk anak yatim bisa melalui lembaga-lembaga amil zakat itu”. Apa jawaban dari saudara ini “Nanti deh, kalau ada lebih uang, sekarang sedang banyak tanggungan”. Mungkin bagi anda juga, ada yang merasa seperti itu kan?

Proses memberi, memanglah baik, tetapi sebenarnya dibalik konsep memberi ini ada sebuah rahasia yang luar biasa, saya mencoba melihat, mempelajari, tentang memberi itu. Kalau kita hanya mendapat saran untuk memberi tentu kita ada yang merasa berat, sebab memang mengeluarkan sesuati itu berat. Ya kan? Sekarang bagaimana jika saya mencoba membelokkan cara berpikir anda ke arah yang lebih menyenangkan. Hmm..Saya jadi teringat ada seorang klien yang bertemu saya beberapa hari yang lalu, seorang mahasiswa kedokteran semester 5.

“Mas Firman, kenapa nilai saya setahun kemarin itu jelek semua, saya jadinya seperti malas saja untuk kuliah, untuk belajar, padahal ditahun pertama, nilai saya bagus, nah setelah memasuki tahun kedua baru terasa malas dan nilai jadi C dan ada yang D mas”, curhat klien ini kepada saya. Mendengar curhatan seperti itu, lalu saya bertanya kepada klien ini, “Mas, apa yang membuat mas mau kuliah kedokteran ini, apa tujuan mas untuk belajar di kedokteran ini”. Lalu dengan spontan, dia menjawab “untuk membahagiakan ibu saya mas, beliau yang berkeinginan keras saya menjadi dokter, saya ingin memberikan sesuatu kepada ibu saya itu”. Nah dari jawaban ini, saya menemukan sebuah persepsi atau saya sebut data dalam pikiran mahasiswa ini yang perlu sedikit dibenahi.

memberi-itu-untuk-kebaikan-diri

Saya ajak, klien saya ini untuk melakukan sebuah eksperimen, ada sebuah gelas berisi air mineral dingin dihadapan dia yang suruh dia untuk memegangnya, kemudia saya berkata ke dia “mas, sekarang memiliki air mineral dingin kan?bisakah mas memberinya kesaya?”, Dia pun langsung menjawab, “bisa mas..ini airnya”, saya pun melanjutkan “oke, kalau begitu, sekarang air itu ditaruh dan anda tidak memiliki apapun ditangan anda, apakah sekarang bisa mas memberi saya air mineral dingin?”, “ya kalau sekarang ngga bisa, karena saya tidak memegangnya mas” jawab dia spontan. Saya pun menjelaskan ke dia, kalau mas ingin memberi saya segelas air mineral dingin, maka mas harus memilikinya dulu kan?kalau mas tidak memiliki air mineral dingin itu, maka tentu mas tidak bisa memberikan air mineral dingin itu, betul kan?

Nah sama halnya dengan sebuah kebahagiaan, jika mas ingin dan berniat memberikan kebahagiaan kepada ibu mas dirumah, maka syarat utamanya, adalah memiliki dulu kebahagiaan itu, dengan memiliki kebahagiaan itu maka saat itulah mas bisa memberikan kebahagiaan tersebut kepada ibu, betul kan? Nah kalau begitu, sekarang coba anda pikirkan apa yang akan anda dapatkan kalau anda sudah berhasil menjadi dokter? Klien saya lalu menjawab sambil membayangkan dirinya sudah menjadi dokter, “saya bisa punya rumah,mobil, apartement dan uang”, “anda bahagia ketika merasakan hal-hal seperti itu nantinya menjadi kenyataan ?”tanya saya, “ya mas, saya bahagia” jawab dia lagi.

keajaiban-memberi

Kala begitu, teori memberi perlu kita sedikit ubah ya perlu sedikit dimodifikasi, yaitu memberi dari apa yang kita miliki. Artinya kita harus memilikinya dulu, jika kita ingin memberi kebaikan maka diri kitalah yang harus diperbaiki dulu, jika ingin memberikan kebahagiaan maka diri kita dulu lah yang harus dibuat bahagia. Jika anda ingin memberikan harta, maka kayakan diri anda dulu, hargai diri anda dulu. Rahasia memberi sebenarnya, bukanlah untuk orang lain tetapi untuk diri sendiri. Semakin sering memberi maka sebenarnya anda sedang menghargai diri sendiri. Jika anda ingin dikatakan oleh orang lain kaya, ingin dianggap kaya maka seringlah memberi. Semua pasti kembali kepada diri kita sendiri. Ingat itu..!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: