Menjemput Malam Lailatul Qadar

menuntut-ilmuMalam ini saya baru sempat menulis kembali di blog ini, karena sejak tulisan terakhir tanggal 12 kemarin memang jadwal mengisi pelatihan AMC padat, khususnya kelas privat dan platinum juga satu kelas reguler di surabaya tanggal 20 juli kemarin. Selain memberikan pelatihan AMC juga masih harus melayani sesi konsultasi untuk membantu secara sederhana klien yang mengalami maslalah psikis. Aktivitas saya lainnya, sebagai dosen dan konsultan telekomunikasi juga menuntut bagian pikiran juga, he.he. Ramadhan kali ini menurut saya lebih bermakna, sebab dalam ramadhan tahun ini Allah mengijinkan saya untuk bertemu dengan orang-orang yang secara pengetahuan agamanya lebih tinggi tapi mereka masih mau untuk menambah pengetahuannya untuk mempelajari AMC program Platinum dan memberikan respon yang luar biasa bahkan sangat mendukung program AMC ini unuk terus diajarkan. Memang begitulah seharusnya kita menjadi manusia, untuk tetap belajar dan belajar sehingga menambah terus ILMU ini, sebab ALLAH berfirman “Jika lautan dijadikan tinta maka belum cukuplah untuk menulis Ilmu-Ku”.

Bicara bulan Ramadhan, maka kita sudah memasuki akhir dari bulan ini. Sepuluh terakhir di bulan ini akan segera kita lewati, artinya bulan yang penuh rahmat ini pasti segera meninggalkan kita, segera lepas dari kita, padahal jika saya mau tentunya satu tahun penuh adalah bulan ramadhan, itu kalau saya lho. Tapi kalau ibu-ibu kayaknya pada repot kalau tiap hari Ramadhan terus ya, harga bahan makanan mahal kan, harus menyiapkan sahur, buka puasa. Jadi repot tuh para istri. Nah..sekarang saya ingin mengajak anda untuk berpikir lagi, meingat-ingat lagi selama 20hari di bulan ramadhan ini, apa yang sudah kita perbuat dalam diri kita? apakah sudah maksimal semua ibadah kita?sudah berubahkah diri kita? atau kah masih biasa-biasa saja? Masihkah puasa kita hanya mendapat haus dan lapar saja?

malam-lailatul-qadar

Jika “iya”, masih ada kesempatan di sepuluh hari terakhir ini untuk memperbaiki diri dan mengisi ibadah dengan semaksimal yang kita bisa. Sebab di sepuluh hari terakhir ini ada sebuah malam yang begitu mulia yaitu malam seribu bulan, yang disebut sebagai malam laiatul qadar. Apa sih malam itu?

Menurut Quraish Shihab, kata Qadar (قﺩﺭ) sesuai dengan penggunaannya dalam ayat-ayat Al Qur’an dapat memiliki tiga arti yakni

  1. Penetapan dan pengaturan sehingga Lailat Al-Qadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Penggunaan Qadar sebagai ketetapan dapat dijumpai pada surat Ad-Dukhan ayat 3-5 : Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada suatu malam, dan sesungguhnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan semua urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar di sisi Kami
  2. Kemuliaan. Malam tersebut adalah malam mulia tiada bandingnya. Ia mulia karena terpilih sebagai malam turunnya Al-Quran. Penggunaan Qadar yang merujuk pada kemuliaan dapat dijumpai pada surat Al-An’am (6): 91 yang berbicara tentang kaum musyrik: Mereka itu tidak memuliakan Allah dengan kemuliaan yang semestinya, tatkala mereka berkata bahwa Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada masyarakat
  3. Sempit. Malam tersebut adalah malam yang sempit, karena banyaknya malaikat yang turun ke bumi, seperti yang ditegaskan dalam surat Al-Qadr. Penggunaan Qadar untuk melambangkan kesempitan dapat dijumpai pada surat Ar-Ra’d ayat 26: Allah melapangkan rezeki yang dikehendaki dan mempersempit (bagi yang dikehendaki-Nya)

Dalam malam itu dikatakan, memiliki nilai lebih dari 1000bulan, artinya jika kita beribadah dengan benar maka sama halnya dengan beribadah selama 1000 bulan. Mengapa diletakkan diakhir ramadhan? Sangat logis, sebab Allah Maha Pengasih, jika mungkin diawal Ramadhan kita masih kurang pas ibadahnya, maka cobalah mengkhusukkan diri saat sepuluh hari terakhir ramadhan. Maka kita pasti mendapatkan kemuliaan tersebut.

meraih-lailatul-qadar

Ada tiga tips untuk menikmati malam kemuliaan tersebut :

Pertama, Niatkan dalam diri untuk benar-benar mendekat kepada Allah dengan memperhatikan kekuasaan-Nya dari bukti-bukti ciptaan-Nya. Dalam sepuluh hari terakhir, cobalah untuk selalu mengingat semua ciptaan dan kejadian dalam dunia ini, dalam kehidupan sehari-hari kita adalah hasil kehendak Allah. Kenali dan Sadari, bahwa semau kejadian yang terjadi bukanlah kebetulan, tapi memang sudah Allah aturkan untuk kita.

Kedua, Anggaplah sepuluh hari terakhir ini adalah hari-hari dimana kita seolah-olah waktu terakhir untuk berjumpa Ramadhan, seolah-olah kita kita akan meninggal dan tidak mungkin bisa bertemu Ramadhan tahun berikutnya. Karena memang kita tidak tahu kan apakah Ramadhan tahun depan masih bisa bertemu? Maka anggaplah sepuluh hari ini adalah kesempatan terakhir kita. Anda bayangkan jika anda meninggal tetapi memiliki nilai ibadah 1000 bulan. Luar biasa kan?

Ketiga, jalani saja disemua hari selama sepuluh hari ini, fokuskan semua pikiran di semua hari selama sepuluh hari ini, jika memiliki waktu luang maka habiskan waktu sepuluh hari ini didalam masjid, renungi semua kesalahan kita dimasa lalu, lalu ijinkan semua kesalahan itu perlahan lepas dari diri anda. Lakukan secara penuh perasaan dan setulus hati.

Semoga, kemuliaan lailatul qadar kita dapatkan. Sebab jika kita berniat mendapatkannya, maka pastilah Allah memberinya, setiap muslim pasti bisa mendapatkannya, asal MAU. Jika kita MAU maka biarlah ALLAH yang mengaturkan malam penuh kemuliaan itu menyelimuti diri ini sebelum berpisah dengan bulan Ramadhan.

Artikel yang berkaitan:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: