Merawat Kemenangan

Setiap kemenangan selalu disambut dengan suka ria, karena memang kemenangan menjadi harapan dan impian setiap orang. Dan untuk meraihnya, bukanlah pekerjaan gampang. Butuh kemauan keras, usaha yang gigih dan pengorbanan besar. Namun waspada, setelah merebut kemenangan bukan berarti diam berpangku tagan. Ada usaha yang harus diteruskan, yaitu mempertahankan kemenangan itu sendiri. Seorang yang semula menang dan juara dalam sebuah pertadingan, bila tidak merawatnya bisa saja terjungkal dan dikalahkan dengan mudah pada pertandingan berikutnya. Kemenangan yang dulu disambut dengan pesta itu pun berubah menjadi kekalahan yang menyedihkan.

Sesudah sebulan penuh menjalani puasa Ramadhan, hari raya kemenangan Idul Fitri pun dirayakan. Semua orang senang dan bahagia. Masa-masa menahan lapar dan dahaga telah lewat dan kini dirayakan dengan berbuka. Bagaimanakah merawat kemenangan Ramadhan ini? Tidak seperti gigihnya mempertahankan kemenangan dalam kejuaraan olah raga, dalam hal kemenangan Ramadhan banyak orang melepaskannya begitu saja. Padahal kalah urusan dunia hanya sementara. Sedangkan kalah urusan akhirat celaka selamanya, Sayang kan?

Jaga Diri

Yang kita peroleh selama Ramadhan adalah kemenangan ruhiyah melawan hawa nafsu. Yang semula liar dan semaunya, bahkan berani menentang perintah Tuhan, saat Ramadhan hawa nafsu benar-benar kita kendalikan. Kita berusaha sekuat tenaga mengedepankan tujuan memperoleh takwa dan rida Ilahi. Bukan kepuasan diri semata. Hawa nafsu pun tunduk, meski harus lapar dan dahaga. Namun bagaimana merawat kemenangan ini? Apalagi godaan seusai Ramadhan lebih berat. Syaitan yang semula dibelenggu, kini dilepas kembali. Lingkungan yang sebelumnya kondusif dengan suasana ibadah, kini berganti dengan berbagai hiburan yang melenakan.

Agar kemenangan terawat, stamina ruhani juga harus dijaga. Sebagaimana fisik, ruhani memerlukan latihan rutin agar tetap kuat. Bila tidak, ruhani juga bisa turun dan akan dengan mudah dikalahkan hawa nafsu. Untuk itu amalan yang telah dilakukan selama Ramadhan, hendaknya bisa kita lestarikan sehingga suasana Ramadhan itu tetap terbawa didalam hati.

Diambil dari majalah BMHnews edisi September 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: